November...
I fall again...
Fall in love...
Lovember...
Ingatkan aku jika aku lupa. Karena lupa telah menjadi kebiasaan baruku saat waktu berusaha mengikis kenangan-kenangan pahit yang seharusnya menjadi pembelajaran penting dan tanpa sengaja ikut menghapus bagian indah yang seharusnya kusebut kenangan manis saat ini. Karena hati tidak bisa benar-benar memilih untuk menghapus bagian-bagian tertentu dan meninggalkan bagian lain yang lebih indah.
Sejak saat kuputuskan untuk benar-benar tidak lagi kehilangan hati ini tanpa sepengetahuanku, beberapa hal sudah tidak lagi sama. Lalu karena telah terbiasa, kukira aku tidak akan pernah lagi kembali pada titik saat aku jatuh dan tidak merasakan sakit. Langit yang menggantungkan kumpulan kapas putih kini bukan lagi masalah. Sama seperti pertemuan dengannya.
Dan langit berawan akan terasa lebih cerah dibanding langit biru manapun, juga angin kencang serasa bagai sepoi yang menggoyangkan rambutnya. Lalu hujan mulai hadir seolah ingin ikut dalam keakraban kami. Tapi tidak ada yang berubah. Tidak ada satupun yang berubah. Tentangnya, dan juga pertemuan aneh yang akan selalu membuatku tersenyum.
Lalu dia akan menopang dagu dengan tangan kanannya, kemudian menggantinya dengan tangan kiri, lalu kedua tangannya. Kemudian dia terlihat cemberut, agak kesal dengan waktu yang berjalan lebih lambat, menurutnya. Detik berikutnya dia akan berjalan ke ujing kursi, menyandarkan kepalanya, berbaring, lalu kembali ke posisinya semula. Dan bagian favoritku adalah saat akhirnya dia tersenyum, karena aku akan terhipnotis, dan lupa untuk kembali ke dunia nyata. Aku lupa menyembunyikan hatiku saat bertemu dengannya dulu, dan entah sejak kapan dia telah mengambilnya. Atau mungkin justru aku yang dengan sengaja ingin menitipkan padanya.
Sepertinya lupa ku kali ini membawaku kembali pada titik indah yang pernah terhapus dalam ingatanku. Namun aku tetap berharap akan ada keajaiban-keajaiban kecil lainnya nanti. Bukan cuma kali ini. Karena hal-hal indah memang tidak seharusnya berakhir.
September will never end...
Because it will come again next year,,
but at least let me take a deep breath,,
and end the September this year...
Setiap bulan selalu punya kisah sendiri yang menjadikannya istimewa atau biasa saja. Setiap bulan memiliki cahayanya sendiri yang membuatnya benderang atau meredup diantara kemilau. Aku tidak pernah membenci bulan tertentu, karena tidak ada yang salah dari ke-dua belas bulan yang hadir tiap tahunnya. Termasuk September. Hanya saja, tahun ini aku memilih september agar berakhir dengan cepat . Terlalu banyak perpisahan dan torehan yang tak kuinginkan. Aku ingin september menjadi kenangan yang akan tertimbun di antara kenangan-kenangan lainnya.
Meski september sama dengan bulan-bulan lain yang punya kisah dan ceritanya sendiri. Tapi kali ini aku lebih memilih untuk menutup kisah bulan ini sekarang. Mengakhiri september ini lebih cepat, bahkan jika hanya sedetik lebih cepat.
Aku tidak menyalahkan september. Tapi, momen yang hadir terlalu penuh dan menyesakkan ruang gerakku.
Aku tidak pernah menyalahkan september. Sekalipun.
Tapi aku tetap berharap september akan berakhir lebih cepat.