Angel Wing Heart

nuni_nunita

my small notes

Tampilkan postingan dengan label Smile. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Smile. Tampilkan semua postingan

i'm just wake up from my sweetest dream...
and when i see your smile,,
my dreams continues...

Apa ada yang pernah meragukan keindahan pagi?
Ketika debu dan bising mesin masih belum merusak damai. Saat langit masih terlihat enggan bangun dari malam panjang. Lalu semburat merah muncul di lengkungan timur kemudian memperindah pagi. Siapa yang akan menolak daya tariknya?

Apa ada yang pernah meragukan ketenangan rintik hujan?
Saat orang-orang dipaksa untuk berhenti sejenak menikmati tiap detik dan tiap tetesan air yang menguapkan tanah dan menghembuskan udara dingin. Membelai dengan ketenangannya. Lalu kita akan terdiam sejenak, kemudian berfikir. Siapa yang tidak terpengaruh dengan ruang kosong yang disediakannya untuk merenung?

Pagi dan hujan.
Meski tanpa sapaan matahari, meski hanya dengan tetesan air yang jatuh setitik demi setitik, meski hanya duduk dan memandang tarian-tarian para pengejar mimpi. Tapi semuanya memang terasa sempurna.
Apa lagi yang lebih indah dibandingkan pagi, hujan, dan senyummu?

Do you like chocolate??
Do you like  ice cream??
I also love them...
As I love your smile...

Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa diutarakan langsung ke orang lain meski hal itu sangat penting. Bukan karena tidak mau mengucapkannya, hanya saja terkadang kalimat-kalimat tersebut akan berhenti di tenggorokan atau tepat di ujung lidah ketika kita hampir mengucapkannya. Lalu kita akan tersenyum, membiarkan semuanya berlalu dan menyimpan kembali kalimat-kalimat itu tanpa pernah sekalipun diucapkan. Sebagian orang mungkin menyimpannya rapat-rapat tanpa pernah sekalipun mengucapkannya, ada juga yang memilih menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkannya agar semuanya bisa berjalan lebih baik. Tapi kali ini aku memilih untuk menuliskan tiap kalimat yang tidak pernah terucap itu lewat tulisan. Meski dia bisa saja tak membacanya, tapi setidaknya aku sudah berusaha mengucapkannya dengan cara lain.

Aku menyukainya dengan caraku sendiri. Berbeda dengan orang lain, yang mungkin memilih untuk menunggu orang yang berharga untukmu. Dia juga bisa saja menyukai orang lain, dengan cara yang berbeda. Meski dengan cara yang berbeda, tapi dengan rasa yang sama, bahwa kita menyayangi orang itu. Kita tahu bahwa ia cukup berharga untuk dilindungi, kita merasa benar untuk mempertahankannya. Aku juga.

Aku menyukainya. Sama seperti aku menyukai coklat dan es krim.
Jika ditanya seberapa besar aku menyukainya, aku akan menjawab sebesar aku menyukai coklat dan es krim. Kekanak-kanakan pasti. Tapi aku memang benar-benar menyukai coklat dan es krim. Aku juga benar-benar menyukainya. Karena bagaimanapun, perutku selalu punya tempat yang cukup untuk diisi coklat dan es krim meski telah terisi penuh. Sama seperti dia. Meski hatiku terlalu sesak dan penuh, selalu ada tempat yang tersedia untuknya, kapanpun dia mau. Dia punya tempat istimewa yang tidak ada seorangpun yang berwenang menggantinya, bahkan jika aku memaksa untuk menggantikan orang lain di sana.

Aku menyukainya. Sama seperti aku menyukai coklat dan es krim.
Mungkin sudah banyak yang tahu keajaiban coklat yang mampu memperbaiki mood seseorang. Dia juga seperti coklat. Entah bagaimana caranya, dengan melihatnya aku bisa tersenyum dalam kondisi apapun. Sama seperti 'keajaiban' coklat, dia punya 'keajaiban' sendiri yang tak dimiliki orang lain.

Aku menyukainya. Sama seperti aku menyukai coklat dan es krim.
Aku pernah menuliskan ini dulu, entah apa dia pernah secara tidak sengaja membacanya atau tidak. Bahwa bagiku dia seperti es krim. Dingin, tapi manis. Aku suka. Mungkin terdengar seperti salah satu dari gombalan yang pernah keluar dari mulut orang lain, tapi aku memang pernah merasa seperti itu. Dulu, ketika bahkan aku terlihat seperti ilalang di matanya, dan dia hanya lewat bahkan tanpa sekalipun punya niat untuk melihatku.Tapi tetap saja, bahkan dengan sikapnya yang seperti itu aku menyukainya.

Aku menyukainya. Sama seperti aku menyukai coklat dan es krim.
Ya, aku memang menyukainya. Sama seperti aku sangat menyukai coklat dan es krim.

Am I ever this crazy before?
Am I ever really honest before?
Am I ever brave enough before?
Even that I ever,,, but
Do you ever know?

Bukan hal yang mudah untuk menuliskan segala hal yang kurasakan lalu tiba-tiba bertindak seolah segalanya biasa saja. Tak ada hal spesial yang terjadi. Karena terkadang, ada banyak kata acak yang berterbangan dalam kepalaku, yang meminta untuk disusun menjadi kalimat yang lebih berarti. Tapi aku juga pernah mendapati diriku kosong, meski ada banyak hal yang ingin kusampaikan.

Setiap orang berubah. Aku juga. Jika dulu aku hanya akan melihat dari jauh orang yang kusuka, merasa cukup hanya dengan melihatnya saja, melihat senyumnya. Sekarang aku menjadi lebih egois. Tidak cukup hanya dengan melihatnya saja, melihat senyumnya, lalu pergi. Terkadang aku ingin tertawa bersamanya. Pun saat ia sedih, saat ia terluka, aku ingin berada di dekatnya, merangkul kesedihannya, dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Tapi, bisakah ia juga melihatku? Bisakah ia menafsirkan luka di tiap senyumku? Bisakah ia mengeja kesedihanku?

"Kita semua belajar dari rasa sakit". Kalimat sederhana yang kutemukan dari menonton sebuah drama Jepang sore ini. Setiap rasa sakit mengajarkan kita sesuatu, terutama kerja keras. Setiap rasa sakit akan menguatkan kita jika kita berani melihatnya secara jelas. Setiap rasa sakit berarti 'sesuatu' untuk kita.

Aku belajar banyak dari orang-orang dan rasa sakit yang diberikan. Aku belajar banyak darimu.

Do you believe me?
I hope so...
But I never want to force you to believe me.
Just believe what you want to believe..

Entah kapan terakhir kali aku menulis tentangmu. Tentang seseorang yang benar-benar pernah kubingkai indah di hatiku. Pernah?? Ya, sulit untuk mempertahankan segalanya dan tetap membiarkan bingkai senyummu di hatiku, karena aku pernah menaruh bingkai lain yang tidak begitu indah awalnya namun kini sangat berarti.

Bohong jika kukatakan akhirnya aku bisa melupakanmu sambil tersenyum, karena aku tidak pernah "benar-benar melupakanmu". Hanya saja, sebuah kalimat dari seorang teman kembali mengingatkanku tentang arti mempertahankan apa yang kita miliki. "Aku menyukaimu bukan berarti bahwa kau adalah orang yang paling sempurna. Tapi dengan segala yang kau miliki, semuanya terasa sempurna".

Sadarkah kau bahwa secara tidak sengaja, beberapa bulan yang lalu aku pernah mengatakannya padamu? Meski dengan tawa yang dipaksakan, meski percakapan itu bahkan tak berarti untukmu, meski dengan sedikit keberanian yang kumiliki waktu itu. Dan akhirnya pada hari itu juga, kau membuatku menjadi apa yang ingin kau percaya. Seperti apa yang dari awal kukatakan, aku akan "berakting" sebaik mungkin. Menjadi seorang teman, menjadi bukan siapa-siapa. Menjadi orang yang senang ketika sepucuk surat dikirimkan padamu, menjadi orang yang bahagia mendengar ceritamu tentang orang lain yang ada di hatimu. Bukankah aktingku benar-benar hebat? 

Tahukah kamu betapa senangnya aku meski hanya duduk melihat punggungmu sambil menikmati terpaan angin di wajahku? Tahukah kamu betapa senangnya aku melihat wajahmu yang teduh ketika kau tertidur pulas? Tahukah kamu, aku sangat menyukai matamu, juga senyummu? Tahukah kamu aku punya segudang kata-kata yang selalu meronta ingin keluar dari mulutku ketika berada di depanmu? Tahukah kamu aku tak pernah ingin kehilangan momen saat bersamamu? Itu dulu.

Jika saat ini kamu hadir kembali, duduk tepat di hadapanku, apa yang harus kulakukan?

Percayakah kamu?

Aku pernah berharap kamu percaya, lalu kamu akan tersenyum padaku dan meski tanpa kata-kata aku tahu bahwa aku bisa mempercayakan hidupku padamu.
Ya, aku pernah berharap semuanya terjadi.
Dan seperti dongeng yang sering kudengar, semuanya akan berakhir bahagia.

Meski saat ini semuanya akan terkihat sangat bodoh. Meski akhirnya keberanianku hanya tersampaikan lewat tiap kalimat dalam tulisan-tulisan yang kulakukan. Meski akhirnya apa yang kulakukan dulu terlihat kekanak-kanakan dan berlebihan.

Meski semuanya terlambat.

Tapi, salahkah aku??


Break time give me enough time to think..
about what I've done..
about the things I'm going to do...
and break time give me enough space to see what's going on here...
cause this is not about what's the best way I can go,,
but what's the right way I should take...

Sepertinya waktuku sudah cukup banyak kali ini. Setidaknya cukup untuk sejenak melupakan beberapa hal. Bukan untuk meninggalkan dan melupakan hal-hal yang sudah ada, tapi berusaha untuk melihat sesuatu dari sisi lain yang tak pernah kutahu. Ceritaku tentangnya tidak hanya tentang menunggu dan memerhatikan. Tapi kami tahu, atau mungkin ternyata hanya aku yang tahu bahwa hidup kami tidak seperti bumi yang berotasi mengelilingi satu titik, matahari. Hidup kami bukan sekedar milik aku atau milik dia. Hidup kami bukan sekedar apa yang kami berdua dapat lihat. Tidak sebatas itu. Masih ada daratan lain yang perlu ditapaki, masih ada samudera lain yang harus diselami, dan masih ada langit lain yang bisa dijelajahi. Hidup kami bukan hanya sekedar mimpi antara aku dan dia, tapi juga tentang mimpi-mimpi orang lain.

Aku tidak pernah pergi. Hanya saja aku butuh waktu untuk sendiri. Jika karena sikapku aku dan dia tidak bisa menjadi kami, mungkin dia memang seharusnya bersama orang yang lebih baik. Dan jika karena sikapnya aku dan dia tidak bisa menjadi kami, mungkin aku memang bukan orang yang tepat yang bisa menerimanya apa adanya.

Is it true??
Or this just a bad dream...

Aku mendengar suara-suara berbisik. Diantara aroma pinus dan dingin yang merengkuhku. Aku memang tak mendengar suaranya, sangat jauh. Aku juga tak melihat wajahnya, tak mungkin terlihat. Tapi aku merasakan bahwa harusnya aku ada bahkan ketika dia mengatakan tidak, bahkan ketika dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja.

Beberapa orang akan tersenyum, dan aku akan ikut tersenyum. Tapi ketika aku gelisah tak akan ada orang yang tahu, karena aku masih tersenyum. Lalu aku akan berharap bahwa ini hanya salah satu mimpi yang tak kuharapkan. Berharap bahwa aku akan terbangun dan kembali tersenyum tanpa rasa khawatir.

Semoga dia tahu bahwa aku memikirkannya. Memikirkan dia yang sekarang tidak berada di sampingku.

Semoga dia tahu bahwa aku mendoakannya baik-baik saja. Meski dia mungkin tidak akan pernah tahu..


If we talk about destiny...
I hope it's you...

Ketika pertama kali aku memulainya, tidak pernah terpikir sekalipun bahwa semuanya akan berubah seperti ini. Tidak ada lagi mereka, dan yang tersisa hanya dia. Meski berkali-kali berusaha untuk mengatakan tidak, tapi hanya namanya yang sering kutuliskan ditiap catatan kecil yang kubawa pergi. Tapi bukan satu dua kali kuhapus namanya, berusaha menghindar dan berpikir untuk pergi. Tetap saja terasa sulit.

Bukankah orang yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik pula?
Aku tidak berbohong ketika kukatakan dia orang yang sangat baik. Setidaknya itu menurutku.  Tapi aku bukan orang yang cukup baik. Apakah itu berarti tidak mungkin aku?? Bukan melebih-lebihkan, tapi memang seperti itulah dia. Lalu, bolehkah aku memintanya menungguku sampai aku menjadi orang yang cukup baik untuknya? Atau bahkan terlalu berlebihan untukku ketika kukatakan bahwa aku benar-benar menyukainya?

Aku serius ketika kukatakan "aku menunggu". Aku serius ketika kukatakan"ya, itu kamu". Tidak bisakah dia membedakan keseriusan ku saat mengatakan kalimat itu di depannya?

Harusnya dia tahu. Hanya namanya yang pernah kusebut ketika bercerita dengan-Nya. Hanya namanya yang kuucap berulang-ulang berharap tidak ada yang salah dari semuanya. Berharap aku benar-benar orang yang cukup baik untuknya.

True love doesn't have a happy ending...
It's simple...
It's never end....

Ada satu nama, yang sering kusebut,, yang hadirnya begitu kurindukan,, yang entah tiap langkahnya yang menjauh begitu menyakitkan... Nama yang kusebut,, berkali-kali.. Nama yang untuk pertama kalinya, kusebut dalam doaku.. Nama yang kutuliskan berkali-kali.. Sebuah nama yang membuatku percaya, yakin, dan memulai hal baru.

Mungkinkah dia mengizinkan semua egoku untuk bertahan seperti ini? Ataukah dia memang tidak tahu sedikitpun? Bisa saja dia sudah tahu tapi memilih untuk diam, kemudian perlahan menjauh. Menghapus satu persatu kisah yang berusaha kuingat.

Jika orang-orang menyebutnya kisah cinta, aku lebih suka menyebutnya sebagai perjalanan hidup. Karena perjalanan hidup ini akan terus berlanjut, tidak berakhir begitu saja seperti kisah cinta yang ketika dua orang yang jatuh cinta akhirnya bersama lalu inilah yang disebut kisah yang berakhir bahagia. Perjalanan hidup akan terus berlanjut, sampai ketika kita harus menuliskan bab terakhir di batu yang terukir lalu melanjutkan perjalanan lain yang belum terjamah.

Ini hidupku, ini kisahku. Mungkin kisahku dengan dirinya. Tidak berakhir begitu saja ketika dia telah mengatakan ya, tidak putus begitu saja ketika dia mengatakan iya. Karena masing-masing dari kita hanya akan berjalan masing-masing dan tidak tahu akan bertemu di satu tempat yang berbeda nantinya.

Sebuah kisah,, sebuah cinta...

I don't know if this is real or just my dream..
If this is a dream,,,
so this is one of my nightmare...

Kapan terakhir kali kusebut namanya?? Kapan terakhir kali kugerakkan tanganku dan merangkai kata untuknya?? Dan kapan terakhir kali kulihat dia tersenyum dan kemudian mulai untuk bercerita panjang lebar?? Entahlah.. Sebulan yang lalu? Atau dua bulan yang lalu?

Karena jarak, aku tahu tidak mungkin untuk terus berpura-pura bahwa aku tak merindukannya. Tidak mungkin aku berpura-pura lupa, bahwa dia orang yang sering kuceritakan dulu. Jika dia begitu spesial, mungkinkah hatiku tega melukainya??

Perasaankukah? Atau ini hanya kenyataan yang terlalu cepat kusadari? Aku melihatnya pergi dengan tatapan marah. Atau mungkin benci? Sepertinya dia kesal, mungkin karena tindakanku, mungkin karena aku memang tidak menyadari ha-hal kecil tentang dirinya. Karena yang kutahu dia terlihat seperti membawa beban, ada cerita yang kemudian terpenggal.

Kali ini,, bolehkah aku menangis?? Sepertinya berlebihan, tapi mungkin ini bisa jadi lebih baik. Lebih baik dibandingkan bila perasaan bersalahku terus ada dan membuatku takut. Karena jika aku takut, mungkin saja aku menjadi ragu. Jika aku ragu, mungkinkah aku menjauh?

Ini kesalahanku. Kesalahan pertama setelah beberapa lama. Kesalahan pertama yang kusadari, mungkin. Kesalahan pertama yang membuatku percaya bahwa dia marah, atau kecewa.

Maaf. Tolong, maafkan kesalahanku.
Meski ini hanya perasaanku saja...

this is how i remember anything..
about you..

Tahu tidak bagaimana caraku mengingat suaranya?
Aku akan memutar ulang kejadian-kejadian yang pernah ada, lalu mencoba menyusun tiap detail sudut dan warnanya. Ya, memang ada bagian yang tidak begitu sempurna, tapi tidak gambaran dirinya. Karena entah meski aku mencoba untuk melupakannya, aku justru mengingat tiap detailnya. Lalu dalam ingatanku dia akan mulai bicara. Meski memoriku tak mampu mengingat tiap kata yang dia ucapkan tapi kemudian aku tersenyum "Oh ya, begitu suaranya"

Tahu tidak bagaimana aku mengingat wajahnya?
Aku hanya perlu menutup mata dan mencoba mengingat kejadian-kejadian dimana ada dia di sana. Dan beberapa saat kemudian aku akan tersenyum kembali. "Ya, itu wajahnya".

Tahu tidak bagaimana aku mengingat namanya?
Aku hanya perlu hidup. Karena selamanya aku akan terus mengingatnya...

Inspiration is you..
and now,,
i need inspiration (you)

Aku tahu bahwa bumi berputar seperti biasanya, pagi tetap saja menghadirkan embun yang membasahi jendela, dan senja masih memiliki jingga yang memukau. Tapi yang tidak kutahu adalah mengapa tanpa dirinya bumi terasa bergerak begitu lambat, bahkan beberapa hari saja benar-benar terasa begitu lama. Aku tidak tahu mengapa meski embun pagi membasahi jendela seperti biasanya tapi tanpanya itu menjadi tak menyegarkan. Ya, yang tak kutahu adalah mengapa meski jingga tetap ada saat senja datang, aku tetap saja tak berfikir itu indah bila tak kubagi dengannya. Mungkin memang aku membutuhkannya,, karena dia yang mengutuhkanku. Dia yang menyegarkan pagiku, dan dia juga yang membuat senja menjadi lebih indah.

Aku ingat sebuah cerita yang kemudian menjadi favoritku. Kisah tentang mimpi seorang pria yang tak ingin  kehilangan orang yang benar-benar disayanginya, bahkan dalam mimpi. Karena meski itu hanya dalam mimpi perasaan itu begitu nyata. Sepertinya, aku tahu bagaimana rasanya. Kisah itu ternyata begitu familiar karena seorang teman punya kisah yang hampir mirip. Tentang dua orang yang saling menyukai, saling menyayangi, tapi akhirnya mereka tidak bisa bersama. Ya, mereka tidak bisa bersama meski mereka berdua tahu bahwa mereka saling menyayangi.

Aku tidak ingin menjadi satu dari sekian banyak kisah orang-orang yang seperti itu. Bahkan membayangkannya terasa begitu sulit. Setidaknya aku pernah mengatakannya. Kuharap suatu saat nanti aku akhirnya benar-benar bisa bersamanya. Bahkan jika itu begitu sulit dan tidak mungkin bagi sebagian orang. Tapi aku percaya. Mungkin kami berdua percaya.

It's not because i wanna say something nonsense..
That's just all thing that I like..

Aku suka suaranya.
Entah apa yang membuatnya begitu istimewa. Yang kutahu ketika telingaku mendapati suaranya, sontak hatiku akan berpaling mencarinya. Bahkan mungkin tak ada yang spesial dalam suaranya. Sepertinya bukan sihir yang dia ucapkan untuk membuatku tetap berada di dekatnya.

Aku suka melihatnya.
Aku suka duduk di dekatnya, sekedar diam mendengar celotehannya, atau melihatnya sambil mengagumi dirinya. Meski aku sadar bahwa aku tak pernah suka melihatnya bersama orang lain, meski itu terdengar egois.

Aku suka matanya.
Mata yang meski kadang tak menatap lurus ke mataku. Karena mata itu terlihat seperti lautan mimpi bagiku. Berlebihan mungkin. Tapi matanya lebih berkilau ketika dia menceritakan kisah yang bahkan terdengar sederhana.

Aku suka senja yang terlihat di dermaga sore itu.
Meski tak ada dia di sampingku, dia seolah menjadi sosok nyata yang merangkulku dalam kedamaian. Jingga terlihat berbeda di langit. Lebih damai, lebih bersahabat. Meski jika aku tau dia tak mampu kujangkau hanya dengan meihatnya dalam kejauhan.

Dermaga dan mimpi di ujung horison pagi itu. Aku melihatnya, berdiri di depan sana. Tak tergapai meski terlihat begitu dekat. Ada mimpi yang berderet setelahnya. Tentang jalan yang ingin kulewati, juga tentang dia.

This is a message for you..
i write in this little island
even that i know
you are far away from me,,
but, can you hear my voice?

Tepat di hadapanku, ada laut yang membentang luas. Ombak kecil yang saling berkejar-kejaran, dan terik yang menemani nelayan memulai aktivitas. Jauh di seberang sana, aku tahu ada dia yang sedang menempuh jalannya. Memulai hidup meski tanpa diriku. Aku juga, di sini, memulai hari meski hanya dengan mengingat kenangan dengannya.

Setidaknya disini kutemukan kedamaian. Hal yang membuatku tersadar bahwa mungkin aku benar-benar telah terperangkap oleh imaji tentangnya. Meski itu tak nyata, tapi dia terlihat jelas.

Dapatkah dia mendengar suaraku? Jika ya, biarkan angin membisikkan kata rindu yang kutitipkan pagi ini. Titipkanlah salam pada langit siang ini, biar langit yang menyampaikannya di antara lelapku.

Pesan ini kukirim dari sebuah tempat yang jauh darinya. Meski tanpa kami sadari mungkin hati kami telah sama-sama terpaut.

In the end, i will become someone who dream the most...
maybe that's the way..

Aku selalu berharap, suatu saat nanti kami bisa berjalan di jalan yang sama. Saat kami benar-benar tak bisa dipisahkan, saat kami benar-benar saling memiliki. Tapi berkali-kali pula kutepis pikiran itu ketika aku tahu kenyataan yang kuhadapi.  Perasaanku mungkin tak pernah sama dengan perasaannya, dan rinduku mungkin bukan pula rindunya. lalu apa yang harus kulakukan jika ada kenyataan yang mebentang tepat dihadapanku, tak sesuai dengan dugaanku? Apa aku harus berjalan lurus seolah aku baik-baik saja? Atau harus berbalik menjauh dan melupakannya?

Kini ketika aku melihat langit malam berhias bulan jingga , laut dengan dan ombaknya yang saling memecah, aku merasakan kehadirannya. Ya, tepat di sampingku.

Meski kukira ini semua mimpi, meski menurutku semua ini hanya khayalan, tapi bahkan bayangannya mampu meyakinkanku, menenangkanku. Tidak masalah jika jalan yang kami lalui masih panjang. Karena bahkan tahun-tahun seperti itu akan terasa begitu singkat. Tidak masalah jika saat ini kami tak bersama saat ini. Karena bahkan sebelum aku sadari dia akan tepat berada disampingku, dan berjanji untuk selamanya bersama.

Memang semuanya sudah digariskan dari awal. Ya, mungkin memang seperti ini jalannya.

this ocean..
i suddenly miss u

Perjalanan ini membuatku tersenyum sendiri. Tepat di tengah-tengah laut dan tiba-tiba kehadirannya begitu kuinginkan. Deru mesin kapal menemaniku. Tempat di sampingku kosong, tapi aku melihatnya di sana.

Ada bulan di depan sana. Bersembunyi malu di antara awan-awan. Tapi dia tak bisa menyembunyikan keindahannya. Langit malam, bulan, awan dan lautnya. Suatu saat nanti kami harus pergi bersama. Ya, kami berdua.

Tepat ketika kusadari dia begitu jauh, aroma laut kembali tercium. Ya, kali ini meski dirimu tak di sini, aku tahu perjalanan ini bukan perjalanan untuk melupakanmu. Karena justru di manapun aku memandang, aku terus melihat bayanganmu.

I'm looking for a place in the sky..
so in the night, i can become a star..
watching you from this place,,
and hope your trouble will  gone..


Entah sudah berapa kali aku mengatakannya. Bahwa aku akan berusaha menjadi apapun yang kau butuhkan, semampuku. Berada di dekatnya ketika dia membutuhkanku,, dan tak berharap berada di dekatnya ketika ia berbahagia. Karena dalam cerita yang di jalani, aku tidak mengharapkan adanya diriku, aku lebih mengharapkannya bahagia. Meski aku tahu, bohong jika kukatakan aku akan bahagia meski melihatnya bersama orang lain. Tapi aku akan membunuh semua keegoisanku, berusaha berbahagia untuk dirinya, dan akhirnya mundur perlahan ketika ia sudah tidak membutuhkanku.

Aku tidak berusaha lari dari kenyataan tentang dia yang terus ada di hatiku,, tapi aku hanya mencoba menjaga semua perasaan yang tumbuh bersamanya dengan terus bersembunyi di balik topeng ini. Mungkin sebagian orang akan mengatakan ini berlebihan, mungkin aku yang dulu akan mengatakan hal yang sama. karena aku tidak pernah berfikir sama sekali jika kemudian aku harus terperangkap pada perasaan yang membuatku bertindak berbeda, yang membuatku berubah.

Jika aku lelah aku akan berhenti, tapi mungkin suatu saat nanti aku akan kembali. Seperti bintang, yang ada di malam yang gelap, pergi saat fajar datang, dan bersembunyi di balik awan mendung.

I do care so much
It's true..
about anything..
Because,, I like you..

Dia adalah dirinya sendiri, orang yang kuakui bukanlah orang yang paling sempurna yang pernah kutemui. Tapi dia memiliki arti tersendiri untukku, yang membuatku bahkan tidak begitu peduli dengan urusan kelebihan atau kekurangan yang dimilikinya. Karena hal itu kemudian membuatku merasa benar ada di dunia ini. Aku tidak perlu malu karena kekurangan yang kumiliki, karena memang tidak ada orang yang benar-benar sempurna.

Meski akhirnya aku menjadi orang lain di depannya, aku membenarkan diriku sendiri. Jika harus tersenyum untuk menutupi tangisku di hadapannya, aku tetap saja membenarkan diriku sendiri. Karena dia. Aku tidak bisa, takkan pernah bisa, jika harus melihatnnya membenciku. Tapi aku lebih takkan bisa menerima jika dia harus tersakiti karenaku, karena kelakuanku, karena sikap kekanak-kanakanku, karena keegoisanku, karena kehadiran diriku. Jika mungkin, aku ingin menjadi apa yang dia inginkan, bahkan jika dia memintaku untuk pergi, benar-benar pergi selamanya.

Meski jika aku benar-benar muak sekalipun, dan bahkan jika aku sungguh benci, aku selalu punya maaf untuknya. Seperti rasa sayang orang tua kepada anaknya, mungkin aku memilikinya, dengan level yang berbeda, dan kuberikan untuknya.

Dia mungkin bukan orang yang terbaik,, tapi aku yakin bahwa dia adalah teman yang baik untuk menjalani hidup ini,,, bersama.

That's one of a thing that I always remember...


Semua hal bisa saja menghilang, terlupakan. Bahkan hal-hal besar yang dianggap penting sekalipun.  Hal-hal yang berusaha kita ingat, berusaha untuk kita abadikan, kemudian menghilang untuk beberapa waktu. Sampai saat ada sebuah ketukan, saat kita akhirnya sadar bahwa kita pernah lupa, lupa hal penting yang harusnya kita ingat. Tapi, ada hal-hal tertentu yang bahkan jika kita berusaha keras untuk melupakannya, justru menjadi hal yang akan terus kita ingat, selamanya. Bahkan hal-hal tersebut akan masuk lewat mimpi-mimpi di malam yang sunyi. Bagiku, dia adalah salah satu dari ingatan yang takkan hilang itu. Ingatan yang akan terus ada, ingatan yang akan terus mengajariku banyak hal, tentang kebahagiaan, tentang kerja keras, dan juga tentang rasa sakit.

Dia menjadi salah satu bagian yang penting dalam hidupku. Menjadi warna dalam kanvasku, nada dalam laguku, dan irama dalam suaraku. Setiap senyuman, setiap perkataan, yang kemudian membawaku semakin jauh, membuatku semakin terikat, dan akhirnya membuatku untuk tetap mempertahankan apa yang kumiliki saat ini.

Dia mungkin tidak tahu, bahwa aku benar-benar menunggu. Dia mungkin akhirnya akan melupakanku, karena aku bukanlah bagian dari hidup yang diinginkannya. Tapi, sekalipun aku tahu dari awal kemungkinan terburuk itu, aku tetap percaya pada harapan yang akan membawaku ke jalan yang lebih baik, membuatku melangkah pada takdir yang terbaik untukku.

this morning is really cold..
and suddenly I think about you..


Sepertinya otakku memang sudah dari dulu membingkai wajahnya.Menyimpannya rapi, di tempat paling istimewa, di hatiku. Meskipun aku sudah berusaha untuk merubah persepsi yang selama ini terbangun dengan sendirinya, aku tetap mendapati diriku percaya dengan mimpi-mimpi yang muncul mengikutinya.

Sepertinya semuanya masih terlihat sama saja seperti pertama kali aku melihatnya. Sepasang alis yang melengkung di atas matanya yang indah, hidungnya, dan senyumnya. Hal yang membuatku tidak akan pernah bosan melihatnya. Bahkan jika harus melihatnya seumur hidupku.

Dia mungkin tidak akan pernah tahu, dan dia tidak boleh tahu sama sekali. Biarlah dia menduga dan akhirnya salah, menempatkanku pada posisi yang bertolak belakang dengan posisiku sekarang. Jika itu memang jalan yang terbaik, maka aku akan berusaha untuk menerimanya. Karena aku lebih tidak bisa berada di tempat dimana dia bahkan tidak mau berbicara denganku, bahkan untuk menoleh sekalipun.

Aku haya tidak ingin melihatnya tersakiti. Mungkin lebih tepatnya aku tidak bisa. Karena aku tahu rasa sakit itu seperti apa, rasa sakit itu benar-benar menyiksa, dan aku tidak aka pernah bisa melihatnya berada pada posisi itu.

I hear a voice, and I think it's you
I run over than found that I take a wrong way
I should let you go,,
Forget the pain, and stay still in that side
or hide in other place, so I can't see you and hurt my heart more...

Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tegar dalam masalah ini. Untuk tidak menyerah dengan apapun, dan mempercayai apa yang hatiku ingin percaya. Aku berusaha mendengar bisikan-bisikan yang terdengar semakin melemah untuk kemudian kuteriakkan suatu saat nanti. Aku berusaha untuk melihat gambaran yang mulai buram agar suatu saat dapat kuperlihatkan pada orang lain. Bahwa inilah aku, dalam setiap perjuangan dan asaku untuk menggapai hal itu.

Kemudian aku meihatmu, yang entah mengapa terkadang menjadi sebuah penyesalan dalam hidupku. Karena jika aku tidak terlalu berani untuk memulainya dulu, mungkin tidak akan ada akhir yang seperti ini. Seandainya nalarku mampu menahanku, harusnya ia membuatku tidak berjalan sejauh ini. Hingga pada akhirnya, hanya akan ada kalimat pengandaian yang akan kugunakan untuk meluapkan rasa kecewa yang telah mencapai ambang batasnya.

Aku tertunduk, merasa sakit. Mengapa aku jadi seperti ini? Ada sesuatu yang mulai membungkam senyumku. Apakah ini air mata? Aku menemukan diriku telah benar-benar merasa kecewa, terjatuh. Tapi aku tahu bahwa hatiku bukanlah seorang pejuang yang gentar terhadap hal seperti ini. Mengapa aku menjadi bimbang dalam setiap keputusanku? Haruskah aku berhenti, tetap menunggu ataukah berlari menjauh? Ada banyak tanya yang kemudian membuatku kembali terdiam. Menghapus rasa kecewa yang tertumpah yang berubah menjadi penyesalan.

Diberdayakan oleh Blogger.
Just my small notes Hope you enjoy this blog... :)

Pengunjung

About Me

Pengikut