Angel Wing Heart

nuni_nunita

my small notes

Because when we love someone,,
We try to trust,,
And try to not getting hurt...

Apa kabarnya dia yang tak pernah lagi membagi kabarnya padaku. Yang sepertinya telah terlalu sibuk dengan bagian lain yang dipilihnya untuk dijalani. Apa kabarnya, dia yang sepertinya telah menemukan persinggahan lain yang bukan di hatiku. Sekalian saja kusebut dia sebagai orang yang pernah memilih tetap bersamaku.

Ah, malam selalu saja berbeda. Seperti malam ini yang tak lagi sama seperti malam-malam kemarin. Seperti malam ini yang tak ada lagi sapaannya seperti malam-malam yang sudah terlewati. Ya, semuanya memang tak pernah sama.

Dia seharusnya tak perlu merasa bersalah. Dia juga tak perlu berpura-pura simpati padaku. Ah, juga tak usah lagi menjanjikanku apapun.

Untuk apa membuat janji-janji yang takkan tertepati. Seharusnya sekalian saja jangan beritahukan kepada siapapun tentang rencana yang takkan pernah diwujudkan. Tentang mimpi untuk menapak tanah yang sama dan melihat terik matahari yang sama. Tentang aku dan dia yang mungkin akan selamanya akan bersama.

Atau mungkin hanya ada aku yang dari awal terlalu percaya dan menjadi salah.

Lalu dia tersenyum. Seolah yang paling tahu tentang perasaan seperti ini. Tentang menunggu. Tentang lelah dan rasa sakit.

Sama seperti dia yang dulu tiba-tiba terbiasa berada di dekatku, suatu saat juga akan terbiasa berada jauh dariku.

Ya,, sama seperti aku yang sebelumnya tak pernah dijanjikan apapun. Kami hanya kembali menjadi aku dan dia.

We life once,,
and we never know,,
when will our heart taken....

Biarkan malam mendekapku erat malam ini. Dengan dingin dan rasa damai yang dibawanya bersama kerlip putih di langit. Dan aku akan duduk dan terpaku menatap layar segi empat yang terus menyanyikan sebuah lagu yang pernah kami nyanyikan. Saat semuanya "masih" baik-baik saja.

Lalu semuanya kembali terputar. Kembali ke detik-detik penuh makna saat kita saling bertukar senyum tanpa ada siapapun yang tahu. Kemudian semuanya kembali lagi menjadi bagian-bagian terpisah yang saling menghilangkan. Tentang kami, mungkin sebaiknya tidak pernah ada.

Biarkan kali ini, semua rasa bersalah tertutupi oleh rasa lelah menunggu. Sekalian saja semuanya kembali menjadi tidak ada. Bukankan lebih baik tidak kehilangan siapapun?

Hati ini pun sama, epertinya sudah tak sanggup kehilangannya.

Ah, sudah berapa malam tidak meihatnya tersenyum (lagi)...

Someone told me
that there are not any right and wrong,,
in loving anyone...

Sudah beberapa hari ini mendengar curhatan dan keluhanmu. Sudah terlalu sering kamu bertanya tentang menjadi lebih jujur pada dirimu sendiri. Kemudian kudapati lagi dirimu kembali berbohong dan pura-pura tersenyum di hadapanku. Berapa banyak kebohongan lagi yang akan kamu buat?? Bohongi saja orang lain, tapi bukan aku.

Dan tentang perasaan aneh yang kamu ceritakan. Saat melihat sepasang mata yang berkilau. Juga ketika mendapati senyum yang menggantung di wajahnya. Kamu kembali menceritakan tentang orang yang membuatmu menjadi merah muda. Kamu kembali lagi menceritakan tentang orang yang membuatmu kembali lemah.

Sudah berapa kali kubilang. Tidak usah memaksanya untuk tinggal. Memintanya pun percuma. Karena tidak ada yang benar-benar berhasil di antara kalian berdua Tidak dengan semua ketidakpastian-nya. Tidak juga dengan semua hal yang kau sebut ketulusan.

Percuma berharap.
Berkali-kali kukatakan padamu hal ini. Mengharapkannya sama saja dengan memintamu untuk melupakannya. Tidak mungkin. Kamu tidak mungkin bisa melupakannya. Sama seperti dirinya yang tak mungkin mewujudkan harapanmu.

Kamu hanya membuang-buang wakktumu saja. Kamu hanya menghabiskan sisa tenagamu.

Berhentilah, kamu. Hatiku. Tak usah melihatnya pergi. Kita akan pergi bersama kali ini. Saling meninggalkan.

I really like the blue sky,,
I really like the rain,, 
I really like the sea,,
I really like the cloud,,
I really like,, you...

Hai, kamu...
Seseorang yang tidak pernah benar-benar kusapa dalam postinganku. Seseorang yang sibuk menerka-nerka keberadaannya dalam tulisanku. Seseorang yang sebenarnya (mungkin) tak pernah menyadari kehadiranku..

Sudah lama tak melihatmu (di hatiku). Sudah lama tak menyapamu (di mimpiku). Sudah lama tidak menceritakan hal-hal tidak penting padamu...

Sudah seberapa jauh dirimu membuat spasi?? Masih terlalu dekatkah hingga aku perlu berjalan pergi?

Tenanglah, ini hanya tentang perasaanku yang menjadi egois. Karena tidak mudah lagi bagiku untuk terus tersenyum saat aku tahu cepat atau lambat kau akan pergi. Dan tidak mudah bagiku untuk bertahan seperti ini, seandainya kau tahu.

Apa kabarnya hati yang kutitipkan padamu? Pernahkah kau mencoba menyapanya? Bahkan aku tak tahu, masih adakah hatiku ditempat pertama kali dia kusimpan, dulu.

Hai, kamu...
Masih belum terdengarkah degupan jantungku tiap kali duduk berhadapan denganmu? Terlalu cepatkah aku memercayaimu hingga kau justru memilih untuk tidak percaya?

Hai, kamu...
Kamu hanya perlu tahu tentang aku yang (pernah) menunggumu. Lalu perasaan ini, abaikanlah. Akan kusimpan untuk diriku sendiri.

Hai, kamu...
Bisakah kamu berjanji, padaku?

Kamu tidak harus menunggu hujan sambil tersenyum seperti yang biasa kulakukan. Kau tidak perlu menatap temaramnya senja sambil mengagumi nya. Kamu juga tidak perlu terpesona pada langit malam dan angin yang berusaha memelukmu, lembut. Kamu tak perlu menyukai hal-hal yang kusuka (dulu). Kamu tak perlu berusaha keras menerimaku.

Kamu tak harus terus bersamaku..

Kamu hanya perlu menjanjikanku satu hal. Jika tidak bisa sebagai seseorang yang menyukaimu, anggaplah ini permintaan dari seorang kenalan yang selalu mendoakanmu.

Berjanjilah. Jika masih sulit untukku, setidaknya untuk orang lain yang pada dirinya kau titipkan hatimu (nanti).

Berjanjilah untuk tetap tersenyum dan berhenti membuatku khawatir..

Berjanjilah,,
kamu akan bahagia...

A view days ago..
I'm just too busy loving you and forget about myself...
And now I'm too busy with myself,,
and try to forget about you....

Jika kemarin aku sibuk dengan segala hal tentang dia, dan hal lain yang kusebut cinta.. Jika kemarin aku selalu menjadi tak berarah dan tak bisa melepasnya.. Jika kemarin dia akan mendapatiku berdiri di tengah hujan sambil tersenyum.. Jika kemarin aku masih menunggunya.. Tenang saja,, tidak ada lagi itu sekarang..

Aku tak lagi melihat langit dan terpaku sambil mengagumi senjanya. Aku tak lagi menunggu hujan dan rintiknya jatuh di tudung jaket dan juga meresap di ujung rok. Sudah tidak lagi..

Awan yang menggantung tak punya kuasa untuk menahanku. Kunang-kunang yang singgah di ujung daun tak punya cukup cahaya untuk dibaginya padaku. Aku tak lagi menunggunya..

Aku terlalu sibuk. Aku terlalu sibuk menjadi diri sendiri yang auranya menipis karena kehadirannya. Aku terlalu sibuk bahkan hanya sekadar untuk tersenyum menatap bayangan kami yang tak sengaja bertemu. Dan mungkin dia juga akan terlalu sibuk mencoba percaya dan tak sadar kami sudak tak sama.

Aku tahu.

Dia harusnya sudah jadi lebih tenang sekarang.. Aku takkan mengganggunya..

Aku juga tak akan mengganggu diriku sendiri..

If you can't believe..
Then how far that you will stay holding this heart??


Ketika orang-orang berpikir bahwa semuanya baik-baik saja, kami-aku dan mungkin juga dia-selalu dibuat ragu. Tentang bertahan dan menunggu. Kami-aku dan mungkin dia juga-saling berusaha menjaga apa yang (pernah) ada.

Aku memercayainya. Berkali-kali. Berusaha memercayainya. Tapi, bagaimana dengannya?

Apa yang dilihatnya ketika aku tidak berada di depannya? Apa yang dipikirkannya ketika aku ada (atau sedang tidak ada) di dekatnya?

Aku selalu berusaha memercayainya. Dengan semua ke-egois-anku yang mulai tumbuh. Aku selalu berusaha memercayainya. Dengan semua ketidakberdayaan untuk menahannya tetap tinggal.

Tidak bisakah berusaha memercayaiku juga?

Dia...
Ah, kamu...
Percayalah pada apa yang pernah kukatakan secara langsung padamu. Jangan percaya pada apa yang dikatakan orang lain. Jangan percaya pada apa yang kau lihat dan interpretasikan sendiri.
Hanya padaku saja.
Bisakah??

if someone ask me,
"why you love him?"
I still can't answer it...

Apa sebenarnya menjadi setia, itu??
Tetap menunggunya seperti ini? Diam, sendirian. Diantara gelap dan cahaya temaram yang saling tumpang tindih. Diantara sepi yang menghiraukan langkah yang pergi.

Apa itu juga berarti tetap tersakiti dan pura-pura tersenyum?
Karena hanya itu caraku untuk tidak lebih tersakiti. Karena aku tak mungkin bisa melihatnya dengan mata sembab dan hati yang hancur. Aku memilih jalan ini. Lebih mudah. Bagiku dan dia yang tidak tahu apa-apa.

Apa yang membuatmu sakit?
Melihatnya. Terasa menyesakkan. Mencintainya. Bohong jika kukatakan tidak menyakitkan.

Lalu, kenapa tetap menyukainya?
Seandainya bisa. Bisakah kita benar-benar membenci orang yang kita cintai meski telah disakiti berkali-kali?

Dan, untuk apa menunggu?
Aku menjaga sesuatu. Meski itu hanya sebuah benang merah tipis yang dihubungkan diantara jari kelingking kami. Juga untuk menjaga perasaan ini. Bukan hanya untuknya, tapi juga untukku.

Mengapa?
Simple.
Karena aku menyukainya.

we push and pull our heart each other,,
we try to looks like nothing happened,,
but the space that we left behind,
will be stay forever..

Nothing's going well...
Tidak ada yang berjalan baik saat sesuatu yang kusebut perasaan kembali dibuat tak berarah. Saat akhirnya hatiku kembali memegang kendali terhadap logika yang tak juga mendapatkan kesimpulan atas premis-premis yang ada. Ya, aku menyukainya. Tapi tidak sesederhana itu. Karena ini bukan hanya tentang aku yang menyukai seseorang-dia. Ini juga tentang dia yang entah kemana hatinya akan dia titipkan selamanya.

Aku menyukainya...
Jika baginya ini adalah salah satu lelucon lainnya yang datang padanya. Bagiku ini hanya sebuah ungkapan sederhana dariku yang tidak tahu cara lain untuk mengungkapkan debaran dalam satu kalimat singkat. Karena tidak ada lagi bayangan paling menyeramkan selain dirinya yang berjalan menjauh. Karena tidak ada lagi jawaban yang bisa kudapatkan dari orang lain kecuali darinya.

Pada akhirnya, aku akan kembali diam dan memandangi sisa jarak yang tak pernah terisi di antara kita. Sisa jarak yang selalu menyesakkan.

when our eyes accidentally met..
when we exchanged smile without anyone knowing..
when I sit right beside you..
sometimes, I just can't help but suddenly blush..
my heart, can't stop beating so fast..

Apa kami pernah benar-benar bicara satu sama lain?
Kami-aku dan dia-sepertinya tidak pernah benar-benar berbicara satu sama lain. Tentang hal-hal bodoh maupun kejadian-kejadian tidak penting untuk dibagi. Karena sepertinya tidak ada cukup waktu untuk itu. Kami-atau mungkin hanya aku-sibuk berusaha agar hatiku tidak mengambil alih wilayah logikaku. Pada akhirnya, aku tidak pernah benar-benar tahu perbedaan antara kenyataan dan harapan. Kami seolah terpaut jauh...

Jarak bukanlah tentang seberapa jauh seseorang dari tempatmu sekarang, tapi tentang seberapa jauh hatimu dapat merasakan kehadirannya. Seperti halnya diriku sekarang. Kami-aku dan dia-sepertinya tidak berada pada pijakan yang sama. Terlalu sibuk diriku berusaha meraihnya, mungkin, hingga tidak tahu harus seberapa jauh atau seberapa dekat aku berada darinya.

Berkali-kali dadaku dibuat sesak dan terasa ingin meledak. Berkali-kali otakku kembali berada dibawah kendali hatiku dan terus memikirkannya. Bahkan berkali-kali aku berusaha pergi dan mendapati diriku kembali menjadi aku yang menyukai dirinya. Ya, bekali-kali aku mencoba untuk tidak percaya dan pada akhirnya tetap berharap melihatnya tesenyum.

Karena menyukai seseorang, bukan hanya tentang "aku menyukaimu" dan "tetaplah di sampingku".

Karena, menyukai seseorang, terutama bagiku, berarti menjadikan tiap detik bersamanya yang kumiliki sekarang berubah menjadi beberapa kenangan bahagia nanti.

Is it real?
Or just another sweet dream??

Sekali lagi aku dibuat ragu. Bukan, bukan olehnya. Tapi karena diriku sendiri. Saat orang-orang mulai percaya, aku justru semakin ragu. Kemudian aku mulai takut. Aku takut kehilangan sesuatu yang sejak dari awal bukan milikku. Aku takut kehilangannya.

Apa mungkin dari awal ini semua hanya mimpi? Ya, mungkin saja ini hanya mimpi.
Tapi ada yang bilang bahwa saat bermimpi, kita tak akan merasa sakit. Jadi sepertinya ini bukan mimpi. Karena rasa sakit ini, nyata. Dan sepertinya tak mungkin sebuah mimpi bisa seruntun ini. Tiap scene, saling berhubungan. Menimbulkan runtunan perasaan bersalah.

Kemudian akhirnya aku tetap berharap ini mimpi. Meski bagian-bagian yang menyenangkan sangat sulit untuk dilupakan. Karena memang kisah tentang kami-aku dan dia-hanya akan menjadi salah satu dari mimpi indahku yang lainnya. Ya, karena saat aku terbangun nanti kuharap semuanya menghilang. Rasa sakit ini. Juga semua tentangnya.

Karena perasaan ini, terlalu menyesakkan untuk menjadi sebuah kenyataan.

What's the strongest thing in this world??
I think it's heart...
Because it still can love another,,
even it know how painful it is..
even it already broke..

Sebenarnya, seberapa kuat Tuhan menciptakan hati manusia?? Seberapa jauh hati seseorang bisa terluka sampai akhirnya mati dan tidak dapat merasakan apapun lagi?? Lalu bagaimana denganku??

Seberapa kuat hatiku??

Entah sudah seberapa jauh hatiku berlari, dan kadang bersembunyi. Tak ada jarak yang terlalu jauh baginya. Terlalu mudah ia tertipu, jatuh, dan kembali merasa sakit. Terlalu mudah ia percaya, memaafkan dan tersakiti sekali lagi. Terlalu mudah ia kembali tersenyum seolah tak pernah terjadi apapun.

Sudah banyak persimpangan yang ia lewati, dan sudah banyak ruang kosong yang ia biarkan tetap menjadi bayangan. Mungkin baginya, satu-satunya jalan untuk tetap bertahan adalah tidak berhenti. Karena menyerah mungkin akan membuatnya mati, dan tak lagi berarti.

Bahkan bagiku, tak pernah sekalipun kumengerti. Dampak dari apa yang ia percaya, rasa menyesakkan yang dibiarkannya di antara jarak yang semakin jauh, juga aliran hangat yang mengalir di antara pandangan yang tanpa sengaja bertemu.

Entah seberapa kuat hatiku..
Suatu saat, mungkin hatiku akan meledak.. Karena apa yang orang sebut sebagai cinta, atau apapun itu.

I think..
I've fallen...

Aku selalu berdoa, berharap semuanya akan tetap baik-baik saja . Aku juga berdoa saat terjatuh. Dan ketika aku mulai ragu, aku kembali berdoa..

Tuhan, biarkan doaku sekali lagi sampai kepada-Mu.

Untuk seseorang yang tersenyum beberapa yang hari lalu. Pada dia yang membuatku tergerak dan berbalik sekali lagi. Pada hati yang ketulusannya tersampaikan padaku.

Dia yang tak pernah membuat semua ini mudah. Karena beberapa bagian dari dirinya terasa jauh. Dia yang sekali lagi berhasil menggenggam hatiku saat aku mulai melangkah pergi.

Tuhan, jaga hatiku kali ini. Jangan biarkan hati ini tersakiti dan berbalik pergi. Biarkan hatiku tetap padanya dan akan kujaga hatinya. Aku berjanji.

Aku takut membuatnya terluka. Aku takut pernah meninggalkannya saat dia tersakiti. Aku takut suatu saat hatinya akhirnya mati untukku. Aku tidak mau kebahagiaan ini menjadi salah satu kisah yang berakhir. Terlalu sering hatiku membuat kesalahan. Dan aku takut, jika perasaan ini juga sebuah kesalahan. Karena ini terlalu indah.

Tuhan, aku berharap mimpiku tentang dirinya tetap ada. Jangan biarkan dia pergi. Biarkan dia tetap tinggal di sini. Di sampingku. Di dekatku. Tepat dihatiku.

Perasaan ini, terlalu menyesakkan. Terlalu memenuhi hatiku. Sepertinya, hatiku akan meledak dibuatnya.

Tuhan, jaga hatiku. Juga hatinya.

Biarkan suatu saat kami bertemu. Dan saling tersenyum.

Biarkan suatu saat kami akhirnya saling tahu. Saling membagi perasaan.

Aku, dan dia.

When we love,
We start to believe..
Because when we love.,
We never stop believing..

Saat pertama kali bertemu dengannya, saat mata kita tanpa sengaja saling berhadapan, aku tidak tahu apa yang takdir mulai mainkan pada hatiku. Saat pertama kali duduk tepat di sampingnya, saat sekali lagi mata kita tanpa sengaja saling berhadapan, aku tidak tahu apa yang hatiku coba sampaikan kepadaku. Saat pertama kali kusebut namanya, pelan, akhirnya aku tahu. Takdir, dan juga hatiku, memercayakanku kepadanya.

Dia pernah bilang, entah sengaja atau tidak, aku harus percaya padanya. Dan aku percaya. Hingga sekarang. Dia pernah bilang, entah sengaja atau tidak, bahwa hatinya telah dia titipkan padaku. Dan kujaga itu. Hingga sekarang. Dia tidak pernah benar-benar bilang bahwa aku adalah orang yang tangannya akan dia genggam nanti. Dia juga tidak pernah benar-benar bilang bahwa dia akan menjaga hati yang kutitipkan padanya. Tapi dia pernah bilang, entah sengaja atau tidak, bahwa berada di dekatnya akan membuatku aman. Dan aku percaya. Hingga sekarang.

Tapi pada akhirnya, kami kembali pada diam yang mengantarkan lelah ke tempat peristirahatan. Kami kembali pada diam yang membawa senyum di antara pagi. Kami kembali pada diam yang tidak pernah memberikan jawaban yang benar-benar pasti. Kami kembali pada diam, yang sekali lagi, meragukan hati yang saling terikat.

Pada akhirnya, aku sadar. Mungkin memang terlalu cepat bagi kami, bagiku dan dia. Sepertinya memang terlalu cepat mengganti "aku dan dia" menjadi "kami".

Tapi, aku tetap percaya.

Pada diriku sendiri.

Pada dia..

Pada "kami".

can't you just turn around and look at me?
at least pause your step so that I can take one step towards you..
or should we walk in our own path?

Pernah tidak kamu melangkahkan kaki ke arah seseorang yang membat jantungmu berdetak sangat kencang? Untuk seseorang yang membuatmu tersenyum pada hujan. Untuk seseorang yang membuatmu mengagumi senja. Untuk seseorang yang membuatmu jatuh cinta pada langit. Namun, kemudian langkahmu terhenti. Saat dia kemudian tak lagi berbalik kearahmu. Dan hatimu kemudian ragu. Benarkah dia?

Punggung yang selama ini kulihat. Dia. Seseorang yang kehadirannya seolah menjadi keindahan yang dititipkan Tuhan. Seseorang yang tanpa sadar membiarkanku menitipkan hatiku padanya. Seseorang yang mungkin belum mengerti, atau tidak akan pernah mengerti, bahwa sedetik kehadirannya begitu berarti. Dan kini orang yang sama, yang tak lagi kukenali. Punggung yang sama yang kini seolah enggan menyapa.

Sepertinya hari itu mungkin benar-benar akan datang. Saat dia, yang kini berada di hadapanku, akan memilih berjalan dengan seseorang yang kepadanyalah hatinya telah berlabuh. Suatu saat. Orang yang selama ini selalu tersenyum mengarah kepadaku, akan memilih untuk berbalik dan berjalan berlawanan dengan arah jalanku. Suatu saat nanti. Aku akan tersenyum. Lagi. Sendiri. Karena mungkin dia memilih pergi.

Aku kembali menarik nafas. Panjang. Dan menghembuskannya dengan sangat berat.

Suatu saat aku akan kembali berharap dia akan berbalik, melihatku yang tetap berada di tempat yang sama dan kembali percaya padaku. Suatu saat, aku akan merindukannya. Aku tahu.

Tidak bisakah mencinta menjadi hal yang sederhana saja?

Because the song of the loneliness,,
when I can't see you again..

Katanya, terlalu banyak terluka dan merasakan sakit membuat orang lupa bagaimana cara menangis. Terlalu sering menunggu membuat orang lupa bagaimana rasanya berlari dan merasakan angin menerpa wajah kita. Terlalu berharap pada sesuatu yang mungkin tidak akan terjadi pada akhirnya akan memberikan rasa sakit yang terlalu besar.

How are you my heart? Bagaimana keadaanmu??
Apakah senja masih terlihat indah bagimu, seperti aku melihatnya sekarang? Aku takut aku kembali memaksamu untuk percaya pada seseorang dan sekali lagi membuatmu tersakiti. Aku tidak mau, lagi, kau berpura-pura baik-baik saja dan membiarkanku jatuh terlalu dalam.

Maaf untuk keegoisanku. Sekali lagi. Maaf. Kemarin, saat ini, dan mungkin sampai esok aku akan tetap menjadi seseorang yang terlalu sering menyusahkanmu. Sudah berapa banyak bekas luka dan kenangan yang kutitipkan padamu? Kau yang paling tahu, tentang betapa aku gampang lupa tentang rasa sakit dan membiarkanmu mengobatinya sendiri. Kau yang paling tahu, tentang betapa aku sering terperangkap dengan perasaan yang membawaku terbang lebih dekat pada langit.

How are you my heart? Bagaimana keadaanmu??
Sudah seberapa jauh kita berjalan? Lelahkah kau? Kau telah menyimpan segalanya sendiri selama ini. Bahkan kau tersenyum meski aku tahu semuanya tidak baik-baik saja. Aku selalu terpukau dengan cahaya merah muda yang menyilaukan. Terlalu indah.

Maafkan aku. Untuk kesekian kalinya. Maaf karena sekali lagi, aku mungkin akan memberikanmu luka lain dan kenangan lain untuk disimpan. Jangan buat aku berhenti dan menyerah. Kau tahu betapa aku menyukai langit, laut, dan hujan bukan? Kau juga harus tahu bahwa aku menyukainya.

Maaf karena aku kembali mengganggu ketenanganmu.

Diberdayakan oleh Blogger.
Just my small notes Hope you enjoy this blog... :)

Pengunjung

About Me

Pengikut